Yayoi Kusama Wafat di Usia 97 Tahun, Dunia Seni Kontemporer Berduka
Seniman kontemporer Jepang, Yayoi Kusama, meninggal dunia pada usia 97 tahun, demikian diumumkan perusahaan yang mewakilinya pada Kamis waktu setempat. Kab
Seniman kontemporer Jepang, Yayoi Kusama, meninggal dunia pada usia 97 tahun, demikian diumumkan perusahaan yang mewakilinya pada Kamis waktu setempat. Kabar ini memicu gelombang belasungkawa dari seluruh dunia, mulai dari museum-museum besar, kolektor, hingga sesama seniman yang menyebutnya sebagai "ikon seni kontemporer" sepanjang masa. Kusama dikenal luas lewat pola titik-titik (polka dot) yang khas, karya labirin cermin tanpa batas (Infinity Mirror Rooms), serta labu kuning raksasa yang menjadi ikon Pulau Naoshima, Jepang. Julukan "Ratu Polka Dot" yang melekat padanya bukan sekadar julukan pasar, melainkan cerminan dari bahasa visual yang ia bangun selama lebih dari tujuh dekade berkarya.
Dari Matsumoto ke Panggung Dunia
Kusama lahir di Matsumoto, Prefektur Nagano, Jepang pada 1929. Sejak kecil ia mengalami halusinasi visual yang kemudian ia tuangkan ke dalam lukisan, sebuah praktik yang ia sebut sebagai "psikosomatik art" untuk menghadapi trauma masa kecilnya. Pada 1958, Kusama hijrah ke New York, kota yang saat itu menjadi pusat seni dunia. Di sanalah ia berkenalan dengan tokoh-tokoh seperti Andy Warhol dan Claes Oldenburg, sekaligus dikenal lewat aksi-aksi performans avant-garde era 1960-an yang kontroversial. Namun pada 1973, ia memutuskan kembali ke Tokyo dan sempat tenggelam dari sorotan publik sebelum bangkit kembali pada 1990-an. Pada 1993, Kusama resmi mewakili Jepang di Venice Biennale, sebuah pengakuan internasional yang mengukuhkan posisinya. Retrospektif besar di Museum of Modern Art (MoMA) New York pada 1998 kemudian disusul pameran keliling dunia yang membuat namanya meledak di pasar seni Barat.
Polka Dot dan Labirin Cermin: Bahasa Visual Tanpa Batas
Polka dot bagi Kusama bukan sekadar ornamen. Ia menyebut titik-titik itu sebagai representasi kosmos, matahari, dan bulan, sekaligus cara dirinya menaklukkan kecemasan. Dalam berbagai wawancara, Kusama kerap menyatakan bahwa ia "menghapus dirinya sendiri" lewat titik-titik yang menyebar tanpa batas. Sementara itu, Infinity Mirror Rooms—ruangan cermin yang dipenuhi cahaya—menjadi magnet pengunjung di berbagai museum dunia, kerap memaksa pengunjung mengantre berjam-jam hanya untuk menikmati beberapa detik di dalamnya. Menurut sejumlah kurator, kekuatan Kusama justru terletak pada kemampuannya mengubah gangguan mental menjadi pengalaman estetika yang universal—sesuatu yang jarang dimiliki seniman mana pun seangkatannya.
Fenomena Pasar Seni dan Rekor Lelang
Di pasar seni, Kusama menjadi salah satu seniman perempuan termahal di dunia. Berdasarkan data Artprice, nilai total lelang karyanya kerap menembus US$100 juta per tahun dalam beberapa tahun terakhir—pencapaian yang langka bagi seniman yang masih hidup. Berikut beberapa rekor lelang pentingnya:
| Karya | Tahun Dibuat | Harga Lelang | Tahun Lelang |
|---|---|---|---|
| White No. 28 | 1960 | US$7,1 juta | 2014 |
| Interminable Net #4 | 1959 | US$7,9 juta | 2019 |
| Seri Pumpkin (labu) | Beragam | Konsisten jutaan dolar | Berulang |
Angka-angka tersebut menempatkan Kusama di jajaran seniman perempuan dengan nilai lelang tertinggi, bahkan mengungguli banyak seniman laki-laki seangkatannya. Kolaborasi dengan rumah mode mewah Louis Vuitton pada 2012 dan 2023 juga memperluas jangkauan karyanya ke publik global, menjadikan polka dot sebagai ikon budaya pop sekaligus seni tinggi.
Legasi: Museum, Labu, dan Advokasi Kesehatan Mental
Pada 2017, Museum Yayoi Kusama dibuka di Shinjuku, Tokyo, menjadi museum pertama di Jepang yang didedikasikan khusus untuk karya satu seniman perempuan. Sejak 1977, Kusama secara sukarela tinggal di fasilitas perawatan kesehatan mental di Tokyo sambil tetap berkarya setiap hari dari studionya. Para kritikus menilai konsistensi berkarya selama lebih dari tujuh dekade, ditambah keberanian membicarakan kesehatan mental di masa ketika topik itu masih tabu, merupakan warisan terbesarnya bagi generasi seniman muda. Kepergiannya di usia 97 tahun menutup babak panjang salah satu karier paling produktif dalam sejarah seni modern, tetapi dot-dotnya akan terus menyala di dinding museum, labu kuningnya tetap berdiri di Naoshima, dan ruang cerminnya akan terus mengundang jutaan pengunjung merasakan "keabadian" yang selama ini ia kejar lewat seni.
[SOCIAL_TWEET]: 🟠 Yayoi Kusama, "Ratu Polka Dot", wafat di usia 97 tahun. Dunia seni kehilangan ikonnya. Infinity Mirror Rooms dan labu raksasa Naoshima akan terus dikenang. #YayoiKusama #SeniKontemporer [SOCIAL_TG]: 🇯🇵 Yayoi Kusama wafat di usia 97 tahun. Rekor lelang US$7,9 juta, museum pribadinya di Tokyo, hingga kolaborasi Louis Vuitton—inilah jejak sang ikon seni kontemporer. Baca selengkapnya di Terdepan News International!
Comments (0)