Nepal Berduka, Longsor Gletser Penghancur Tewaskan 389 Orang
Rabu pagi, 26 Agustus 2026, masyarakat di kawasan perbatasan Nepal-Tibet tak menyangka hari itu akan menjadi awal dari salah satu bencana alam terdahsyat d
Rabu pagi, 26 Agustus 2026, masyarakat di kawasan perbatasan Nepal-Tibet tak menyangka hari itu akan menjadi awal dari salah satu bencana alam terdahsyat di Asia Selatan dalam satu dekade terakhir. Sekitar pukul 06.00 waktu setempat, gletser di ketinggian lebih dari 5.000 meter di Pegunungan Himalaya runtuh secara masif, memicu gelombang lumpur dan air setinggi beberapa lantai yang menghantam pemukiman di sepanjang Sungai Trishuli. Dalam hitungan menit, desa-desa yang semula damai berubah menjadi lautan lumpur dan puing. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan bahwa ketinggian air di satu titik Sungai Trishuli naik hingga 9 meter hanya dalam 30 menit — laju yang hampir mustahil diantisipasi oleh warga sipil.
Kronologi: dari Gempa Palsu hingga Tsunami Lumpur
USGS (Survei Geologi Amerika Serikat) awalnya mencatat aktivitas seismik berkekuatan 4,4 magnitudo sekitar 65 kilometer utara Kathmandu. Namun analisis lebih lanjut mengoreksi temuan tersebut: yang terjadi bukan gempa tektonik, melainkan runtuhan gletser berskala besar yang menghasilkan gempa berkekuatan 5,2 magnitudo. Runtuhan itu memicu longsor masif yang mengirimkan jutaan meter kubik material ke lembah-lembah di bawahnya.
Joseph Shea, glasiolog dari University of Northern British Columbia, menjelaskan bahwa bencana ini harus dipahami sebagai "peristiwa majemuk" — kombinasi antara runtuhan gletser dan longsor besar yang terjadi secara bersamaan. "Ini bukan sekadar banjir bandang biasa," ujar Shea. "Pemanasan iklim telah mengubah sistem es Himalaya menjadi jauh lebih tidak stabil, dan kita perlu mulai mengenali tanda-tanda awal yang lebih halus namun berpotensi mematikan."
Di lapangan, rekaman CCTV dari Pelabuhan Gyirong di perbatasan Nepal-Tiongkok memperlihatkan arus lumpur dan debris yang menghanyutkan bangunan bertingkat dan bus-bus parkir. Di Distrik Nuwakot, Nepal, lumpur setebal lebih dari 1,5 meter menyelimuti jalan-jalan utama. Puing-puing tersangkut di dahan pohon, dan para penyintas ditemukan bermandikan lumpur dengan ekspresi tak percaya.
Korban Jiwa dan Upaya Penyelamatan
Hingga Jumat (29/8/2026), jumlah korban jiwa dikonfirmasi mencapai 987 orang di Nepal dan 16 orang di Tibet, dengan total lebih dari 3.900 orang masih dinyatakan hilang. Di antara yang belum ditemukan terdapat 517 warga negara asing dari 30 lebih negara, termasuk 178 orang dari India, lebih dari 60 orang dari Amerika Serikat, serta warga dari Ukraina, Inggris, Afrika Selatan, dan Jepang.
| Asal Korban Hilang | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Nepal | 3.400+ | Penduduk lokal dan peziarah |
| India | 178 | Termasuk pekerja proyek listrik |
| Amerika Serikat | 90 | 3 orang berhasil diselamatkan |
| Tiongkok (Tibet) | 260 | Warga asing di Tibet |
| Lainnya (30 negara) | 149 | Termasuk peziarah Gunung Kailash |
Lebih dari 7.500 orang telah dievakuasi, termasuk 227 warga negara asing. Namun akses penyelamatan terhambat karena lebih dari 35 jembatan hancur dan sekitar 40 kilometer jalan rusak parah. Militer Nepal mengerahkan lebih dari 30.000 personel keamanan untuk operasi pencarian dan penyelamatan, didukung helikopter militer yang beroperasi siang malam.
Dampak Kemanusiaan dan Bantuan Internasional
Pemerintah Nepal telah mendirikan dana tanggap darurat. Bank Dunia, India, Tiongkok, dan Amerika Serikat berkomitmen menyumbang total $229 juta. PBB mengalokasikan $2 juta dari Dana Bantuan Kemanusiaan, sementara Swiss menyerahkan $1 juta kepada PBB. Korea Selatan mengerahkan tim relief darurat beranggotakan 44 orang.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan belasungkawa dan menyatakan kesiapan memberikan bantuan apa pun yang dibutuhkan Nepal. Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang terbang langsung ke Gyirong untuk memimpin operasi penyelamatan, didampingi 500 personel militer dan paramiliter.
Ancaman Sekunder: Danau Akibat Runtuhan
Di perbatasan Nepal-Tiongkok, danau baru terbentuk akibat tumpukan material longsor yang membendung aliran Sungai Tsogyal dan Purupqiangzangbu. Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok melaporkan danau tersebut mengandung 2 juta meter kubik air pada Kamis pagi dan diperkirakan bertambah 3 juta meter kubik lagi dalam tiga hari ke depan. Otoritas memperingatkan risiko tinggi jebolnya bendungan alami tersebut, yang dapat memicu gelombang banjir baru.
Analisis: Himalaya dalam Krisis Iklim
Bencana ini bukan insiden terisolasi. Pada Agustus 2025, danau glasial di Tibet meluap karena suhu tinggi yang mematikan sembilan orang dan merusak infrastruktur kritis termasuk jembatan penghubung Nepal-Tiongkok. International Center for Integrated Mountain Development (ICIMOD) berbasis di Kathmandu memperingatkan bahwa sistem es Himalaya yang semakin tidak stabil mengancam komunitas, infrastruktur, dan pasokan air di salah satu kawasan paling padat penduduk di dunia.
"Kita sedang menyaksikan transformasi fundamental pegunungan tertinggi di dunia akibat perubahan iklim," ungkap ICIMOD dalam pernyataan tertulis. Pemanasan global telah membuat gletser-gletser Himalaya menyusut dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut PBB, Nepal memiliki lebih dari 2.000 danau glasial yang berpotensi menimbulkan banjir bandang — angka yang terus meningkat seiring mencairnya es.
Di tengah duka mendalam, para penyintas dan keluarga korban terus menantikan kabar. Shova Shrestha, 33 tahun, sudah lebih dari sehari menanti suaminya, Rajan Shrestha, di Bandara Bidur. "Saya terus menatap setiap helikopter yang mendarat, berharap dia akan turun dari sana," katanya dengan suara parau. Sementara di New York, Rajan Tamang, pemilik restoran Nepal, baru saja kehilangan ibu dan saudara perempuannya. "Keluarga saya baru bangun tidur, mereka bahkan belum mendapat informasi apa pun, dan tiba-tiba banjir ini datang," ujarnya setelah menghadiri acara doa bersama.
Comments (0)