Kritik Tajam Proyek Runway Ketiga Heathrow: Boros dan Tak Menjanjikan Pertumbuhan
LONDON — Rencana pembangunan landasan pacu atau runway ketiga di Bandara Heathrow kembali menjadi sorotan tajam. Kolumnis The Guardian, Simon Jenkins, meni
LONDON — Rencana pembangunan landasan pacu atau runway ketiga di Bandara Heathrow kembali menjadi sorotan tajam. Kolumnis The Guardian, Simon Jenkins, menilai proyek ambisius tersebut sebagai "lubang uang tanpa dasar" yang tidak akan mendorong pertumbuhan ekonomi, membutuhkan waktu puluhan tahun untuk rampung, dan berpotensi menyerap miliaran dana publik. Menurutnya, satu-satunya pihak yang benar-benar diuntungkan adalah pemilik bandara.
Dalam analisisnya, Jenkins menyoroti watak politik yang kerap kehilangan akal sehat ketika berhadapan dengan istilah "infrastruktur". Ia mencontohkan, usulan penambahan anggaran untuk layanan kesehatan atau pembukaan kembali klub remaja biasanya langsung menuai kerutan dan pertanyaan soal kemampuan fiskal. Namun, begitu kata infrastruktur disebut, sorak sorai muncul karena kata itu diasosiasikan dengan kemegahan, gengsi, dan "pertumbuhan ekonomi".
Kronologi Kontroversi Runway Ketiga
Perdebatan mengenai perluasan Heathrow bukan perkara baru. Berikut rangkaian perkembangan isu tersebut:
- Wacana awal — Usulan penambahan landasan pacu muncul sebagai jawaban atas kekhawatiran kapasitas Bandara Heathrow yang dinilai sudah sesak di kawasan barat London.
- Penolakan berlapis — Kalangan pegiat lingkungan dan sejumlah pihak di pemerintahan menilai proyek itu bertentangan dengan komitmen iklim nasional.
- Keraguan maskapai — Perusahaan penerbangan yang berbasis di Heathrow dilaporkan skeptis terhadap skema pembiayaan dan dampaknya terhadap biaya operasional.
- Beban penumpang — Penumpang berpotensi dikenai biaya tambahan yang lebih tinggi dibandingkan bandara mana pun di Eropa.
- Seruan penghentian — Jenkins secara terbuka mendesak agar rencana ini dihentikan sebelum menelan biaya lebih besar.
Kapasitas yang Tidak Terpakai di Bandara Lain
Argumen menarik yang diajukan Jenkins adalah bahwa London sesungguhnya tidak kekurangan ruang udara. Ia menyebut lahan di sekitar Gatwick, pesaing utama Heathrow, terbengkalai, sementara kapasitas Bandara Stansted sebagai bandara ketiga London belum termanfaatkan secara maksimal.
| Bandara | Status Kapasitas | Catatan |
|---|---|---|
| Heathrow | Penuh / sesak | Mengajukan runway ketiga |
| Gatwick | Lahan sekitar kosong | Berpotensi diperluas |
| Stansted | Belum terpakai optimal | Bandara ketiga London |
Peringatan Iklim dan Realitas Ekonomi
Kritik terhadap proyek ini tidak hanya bersifat fiskal, tetapi juga lingkungan. Ekspansi penerbangan skala besar berisiko memperbesar emisi karbon pada saat banyak negara berupaya menekan dampak perubahan iklim. Jenkins menyoroti kesenjangan antara retorika pembangunan dan realitas manfaat yang bisa dibuktikan.
"Sebuah perusahaan swasta milik asing ingin meraup lebih banyak uang dari investasinya yang sudah sesak di barat London," tulis Jenkins.
Ia menambahkan bahwa maskapai penerbangan sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan proyek ini, sementara penumpang diproyeksikan menanggung biaya tambahan yang lebih mahal dibanding bandara lain di Eropa.
Pemerintah Inggris menghadapi dilema klasik: mendorong pertumbuhan jangka pendek atau menjaga disiplin fiskal dan komitmen iklim. Bagi Jenkins, jawabannya jelas. Heathrow, menurutnya, bukan mesin pertumbuhan, melainkan beban yang akan terus membengkak jika diteruskan. Seruan untuk menghentikannya kini menjadi ujian bagi para pembuat kebijakan: apakah mereka mendengar alasan, atau tetap tersihir oleh kata "infrastruktur".
Comments (0)