Kekerasan di Kereta Inggris Mencapai Rekor Tertinggi
Sebuah kereta berhenti di luar Stasiun Exeter St Davids pada Senin pagi, dan tanpa perlu memeriksa apa pun, para petugas stasiun sudah mengambil kesimpulan
Sebuah kereta berhenti di luar Stasiun Exeter St Davids pada Senin pagi, dan tanpa perlu memeriksa apa pun, para petugas stasiun sudah mengambil kesimpulan yang sama. Pasti ada insiden kekerasan di dalam rangkaian kereta. "Seseorang pasti sudah meledakkan amarahnya," ujar seorang petugas ke stasiun. "Ini terjadi sepanjang waktu. Bos saya baru saja ditanduk beberapa waktu lalu." Kalimat singkat itu mencerminkan kebiasaan pahit yang kini membayangi jaringan kereta di Great Britain: kekerasan terhadap awak maupun penumpang telah meroket ke angka rekor.
Seriangan laporan terbaru menunjukkan kasus penghinaan, ludah, penandukan, hingga pelecehan seksual di perkeretaapian naik tajam dalam beberapa tahun terakhir. Yang membuat situasi lebih memprihatinkan, lonjakan itu terjadi berbarengan dengan menyusutnya jumlah personel kepolisian transportasi di jalur-jalur utama. Kombinasi antara kehadiran aparat yang menipis dan tekanan operasional yang berat membuat para pekerja rel merasa semakin rentan.
Pekerja Rel Menghadapi Ancaman Harian
Bagi staf stasiun dan kondektur, kekerasan bukan lagi kasus luar biasa melainkan bagian rutinitas kerja. Keluhan tentang penumpang yang mabuk, agresif, atau terlalu agresif muncul hampir setiap hari. Insiden penandukan, pemukulan, dan pelecehan seksual kini tercatat sebagai puncak tertinggi yang pernah tercatat di jaringan kereta Great Britain.
"Kekerasannya sudah di luar batas. Kami datang bekerja untuk melayani publik, bukan untuk menjadi sasaran. Ketika aparat yang berjaga makin sedikit, pelaku makin merasa kebal," ujar seorang perwakilan staf rel yang enggan disebut namanya.
Situasi itu diperparah oleh berkurangnya personel British Transport Police di banyak koridor. Ketika petugas tidak selalu hadir di peron maupun di dalam kereta, waktu respons menjadi lebih lama. Akibatnya, pelaku kekerasan merasa peluangnya untuk lolos semakin besar. Para pekerja pun mengaku kerap ditinggalkan sendirian menghadapi penumpang yang tidak stabil tanpa pendampingan keamanan memadai.
Dampak pada Penumpang dan Layanan
Lonjakan kekerasan tidak hanya menakuti karyawan, tetapi juga penumpang yang merasa tidak aman melakukan perjalanan, terutama pada larut malam. Sejumlah penumpang mengaku memilih menghindari kereta terakhir dan beralih ke taksi atau kendaraan pribadi. Pilihan itu, pada gilirannya, memangkas pendapatan operator dan memperberat beban operasional yang sudah menumpuk.
| Jenis Insiden | Tren | Kelompok Terdampak |
|---|---|---|
| Penghinaan & ancaman lisan | Naik tajam | Konduktor, petugas stasiun |
| Ludah & penandukan | Naik tajam | Awak kereta |
| Pelecehan seksual | Rekor tertinggi | Penumpang, terutama perempuan |
| Kekerasan fisik lain | Meningkat | Penumpang & staf |
- Semakin sedikit petugas transportasi di jalur-jalur sibuk.
- Waktu respons lebih lambat ketika insiden terjadi.
- Staf rel menghadapi tekanan psikologis berkelanjutan.
- Penumpang kehilangan rasa aman, khususnya pada perjalanan malam.
Tuntutan akan Perlindungan Nyata
Serikat pekerja dan organisasi advokasi menyerukan penambahan kembali personel keamanan, pemasangan kamera pengawas yang lebih canggih, serta penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku kekerasan. Mereka menegaskan bahwa perlindungan pekerja bukan sekadar soal fasilitas, melainkan soal martabat.
"Tidak ada satu pun pekerjaan yang menuntut seseorang menerima ludah atau pukulan sebagai risiko wajar. Pemerintah dan operator harus bertindak sekarang, bukan setelah korban berjatuhan," tegas aktivis keselamatan perkeretaapian.
Di Stasiun Exeter St Davids, kereta akhirnya kembali berangkat setelah kekacauan mereda. Namun bagi para awak yang berdiri di peron, pertanyaan yang sama terus berulang: kapan kekerasan ini benar-benar dihentikan? Selama jumlah petugas terus menyusun dan sanksi terasa ringan, rasa takut itu akan tetap menjadi teman perjalanan mereka setiap hari.
Comments (0)