Trump Serang PBB dengan Pidato Kasar di Sidang Umum
NEW YORK — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato yang disebut banyak pengamat sebagai salah satu penampilan paling kasar dalam sejarah
NEW YORK — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato yang disebut banyak pengamat sebagai salah satu penampilan paling kasar dalam sejarah Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (23/9/2026). Ekspektasi publik terhadap pidato Trump memang sudah rendah, namun kenyataannya lebih buruk dari yang diperkirakan. Dalam pidato berdurasi panjang itu, Trump meninggalkan sisa-sisa idealisme Amerika Serikat dan menggantinya dengan pameran kekuatan mentah di hadapan pemimpin dunia.
Para analis politik internasional menilai pidato tersebut mencerminkan pergeseran dramatis posisi Washington terhadap tatanan internasional. “Yang kita saksikan bukan lagi retorika kampanye, melainkan doktrin resmi sebuah kekuatan besar yang menolak kerangka kerja sama global yang selama ini ia bangun sendiri,” ujar seorang analis hubungan internasional yang dikutip media internasional.
Latar Belakang: Hubungan Trump dan PBB yang Memanas
Sejak menjabat, Trump dikenal tidak nyaman dalam forum formal seperti ruang sidang pemerintah. Ia lebih memilih panggung yang lebih mewah, seperti Mar-a-Lago, atau rapat umum terbuka. Selama bertahun-tahun, Trump tidak menyembunyikan permusuhan terhadap PBB dan prinsip-prinsip tatanan internasional yang menjadi fondasi lembaga tersebut.
Permusuhan itu dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi serangan frontal. Trump secara berkala mengkritik Mahkamah Pidana Internasional (ICC), agenda iklim PBB, hingga UNESCO. Pada Juli 2025, Amerika Serikat resmi mengumumkan penarikan diri dari UNESCO, menambah daftar panjang institusi multilateral yang ditinggalkan Washington.
Rangkaian Kejadian Menuju Pidato
- 2025 — AS mengumumkan penarikan diri dari UNESCO pada Juli 2025, memicu kritik dari negara anggota lain.
- Sepanjang 2025–2026 — Trump berulang kali menyerang agenda iklim PBB dan mengancam pengurangan kontribusi finansial AS.
- Awal 2026 — Kritik tajam terhadap ICC kembali dilontarkan, yang diduga berkaitan dengan kekhawatiran Trump soal kemungkinan penuntutan di masa depan.
- Selasa, 23 September 2026 — Pidato Sidang Umum PBB disampaikan, disebut sebagai puncak retorika anti-multilateralisme.
Analisis: Kekuatan yang Menurun
Para pengamat menilai pidato Trump adalah pertunjukan kekuatan mentah, namun justru menandai titik lemah. “Kekuatan seperti ini justru cenderung menurun dalam beberapa tahun ke depan, karena bergantung pada ancaman bukan pada koalisi,” kata seorang profesor hukum internasional. AS masih menjadi anggota terbesar PBB dalam hal pendanaan, menyumbang sekitar 22 persen dari anggaran rutin, tetapi tekanan untuk memangkas kontribusi terus berlanjut.
| Isu | Sikap Trump | Dampak |
|---|---|---|
| UNESCO | Tarik diri (Juli 2025) | Kehilangan pengaruh kebijakan pendidikan global |
| Agenda Iklim | Serang berulang | Momentum Paris Agreement melemah |
| ICC | Kritik frontal | Legitimasi hukum internasional tertekan |
Reaksi Dunia
Sejumlah negara anggota PBB menyayangkan nada pidato tersebut. Diplomat dari negara Eropa menyebutkan bahwa semangat kerja sama yang menjadi alasan pendirian PBB kini terancam. Sementara itu, pendukung Trump menilai pidato itu menegaskan kedaulatan Amerika Serikat dan menolak birokrasi global yang dianggap membatasi kepentingan nasional.
Namun bagi mayoritas pengamat, pesan utama pidato itu jelas: tidak ada lagi sisa idealisme Amerika yang selama ini dijual ke dunia. Yang tersisa hanyalah pameran kekuatan — kekuatan yang, menurut banyak analis, perlahan namun pasti menurun. Sidang Umum PBB tahun ini ditutup dengan nada tegang, dan dunia kini menunggu langkah nyata, bukan sekadar retorika, dari Washington.
Comments (0)