Langkah pemerintah Inggris yang mulai menjajaki kebijakan penarikan retribusi penginapan atau pajak turis malam hari menandai babak baru bagi sektor pariwisata Britania Raya. Namun, bagi negara-negara di daratan Eropa, skema pungutan ini bukanlah hal baru melainkan telah menjadi instrumen fiskal krusial selama beberapa dekade terakhir untuk menopang kas pemerintah daerah.
Di berbagai destinasi utama seperti Italia, Spanyol, dan Prancis, penarikan pajak tambahan terhadap pelancong yang menginap di hotel maupun akomodasi sewa daring seperti Airbnb telah membuktikan diri sebagai pundi-pundi pendapatan yang sangat menguntungkan. Kebijakan ini tidak hanya membantu pemerintah kota yang kekurangan anggaran dalam merawat fasilitas publik, tetapi juga menjadi strategi penting dalam memitigasi dampak buruk ledakan pariwisata massal (overtourism).
Kronologi dan Perkembangan Kebijakan Pajak Wisata
Penerapan retribusi kunjungan wisata di daratan Eropa berkembang melalui sejumlah fase penting hingga menjadi standar baku industri perhotelan saat ini:
- Dekade 1990-an hingga 2000-an Awal: Sejumlah kota bersejarah di Prancis dan Jerman mulai memperkenalkan biaya retribusi lokal skala kecil untuk mendanai pembersihan kota dan pemeliharaan cagar budaya.
- Tahun 2011: Italia meresmikan undang-undang federal yang memberi kewenangan kepada pemerintah kota wisata, seperti Roma, Florence, dan Venesia, untuk memungut tassa di soggiorno (pajak hunian) hingga €5 hingga €10 per malam tergantung pada klasifikasi bintang hotel.
- Periode Pasca-Pandemi (2022–2024): Menyusul lonjakan kunjungan wisatawan global, kota-kota seperti Venesia bahkan memperluas skema dengan mengenakan tiket masuk bagi wisatawan harian (day-trippers) tanpa menginap guna mengendalikan kepadatan situs bersejarah.
- Fase Ekspansi 2025–2026: Inggris dan beberapa wilayah baru di Eropa barat mulai menyusun rancangan undang-undang serupa setelah melihat stabilitas arus kas yang dinikmati pemerintah daerah di Eropa daratan.
"Pungutan wisata ini telah bertransformasi dari sekadar biaya tambahan administratif menjadi pilar pendanaan utama bagi kota-kota warisan dunia untuk merestorasi monumen bersejarah dan meningkatkan kualitas hidup penduduk lokal."
Mekanisme Penarikan dan Pemanfaatan Dana Retribusi
Bagi mayoritas pelancong internasional, keberadaan pajak turis kerap menimbulkan kejutan biaya di akhir masa liburan. Pasalnya, biaya ini umumnya ditagihkan secara langsung di meja resepsionis saat proses lapor keluar (check-out) dan tidak digabungkan dalam tarif pemesanan awal akomodasi daring.
Pemerintah kota di Italia memanfaatkan dana hasil pungutan pajak ini untuk beberapa sektor prioritas, di antaranya:
- Pemeliharaan Infrastruktur: Perbaikan jalan, sanitasi lingkungan perkotaan, dan penyediaan armada transportasi umum tambahan pada musim liburan puncak.
- Konservasi Cagar Budaya: Restorasi bangunan bersejarah, museum kota, dan situs arkeologi yang rentan aus akibat tingginya volume kunjungan.
- Peningkatan Layanan Darurat: Penguatan kapasitas kepolisian lokal, petugas medis darurat, serta pusat informasi turis terpadu.
Kendati sempat menuai resistensi dari asosiasi perhotelan karena kekhawatiran penurunan tingkat okupansi, realitas pasar menunjukkan bahwa minat wisatawan global tetap stabil. Negara-negara yang telah lama menerapkan regulasi ini membuktikan bahwa transparansi penggunaan dana pajak mampu menjaga daya tarik pariwisata berkelanjutan tanpa membebani keuangan warga setempat.
Comments (0)